TSMC, produsen chip kontrak terbesar di dunia, melaporkan pendapatan kuartal III 2026 yang menembus rekor NT$1,49 triliun atau sekitar US$46,71 miliar. Angka yang diumumkan Kamis, 8 Oktober, itu naik sekitar 50 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan melampaui perkiraan pasar.
Angka-angka utama
Untuk September saja, pendapatan TSMC mencapai NT$511,86 miliar, naik 54,6 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi penjualan September tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, tetapi turun 0,6 persen dari rekor bulanan Agustus yang sebesar NT$514,81 miliar. Dengan begitu, pendapatan TSMC menembus NT$500 miliar selama dua bulan berturut-turut.
Pendapatan kuartal III naik sekitar 17,6 persen dari kuartal sebelumnya. Perkiraan konsensus 19 analis yang dihimpun LSEG berada di NT$1,46 triliun. Angkanya juga di atas panduan TSMC sendiri pada Juli, yaitu US$44,6 miliar sampai US$45,8 miliar. Untuk sembilan bulan pertama 2026, pendapatan terkumpul NT$3,899 triliun, naik 41,1 persen.
Pendorongnya
Analis menyebut permintaan chip AI yang kuat dan penimbunan stok oleh produsen ponsel menjelang peluncuran produk baru sebagai pendorong utama. TSMC adalah pemasok besar Nvidia dan Apple. Untuk kuartal IV, analis memperkirakan pendapatan naik lagi berkat platform AI Vera Rubin milik Nvidia dan proses 2 nanometer TSMC.
Di hari yang sama, Samsung Electronics memproyeksikan laba operasional kuartal III di atas 100 triliun won, yang disebut sebagai capaian pertama bagi perusahaan teknologi, berkat penjualan memori yang melonjak seiring boom AI.
Yang dinantikan berikutnya
TSMC akan menggelar konferensi laporan keuangan kuartal III pada 15 Oktober 2026. Analis LSEG memperkirakan laba bersih naik 64 persen secara tahunan menjadi sekitar NT$740,8 miliar. Investor akan memperhatikan kapasitas proses canggih dan pengemasan lanjutan, rencana belanja modal tahun depan, ekspansi luar negeri, serta kemungkinan kenaikan harga.
Meski laporan ini kuat, saham chip sempat tertekan pada hari yang sama. Menurut pemberitaan, kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak membuat saham Nvidia, AMD, dan Intel melemah di perdagangan pra-pasar. Artinya, permintaan AI yang tinggi belum otomatis mengamankan harga saham di tengah kondisi makro yang sulit.
Sumber: Focus Taiwan (CNA), Reuters, TrendForce, Taiwan News, MacDailyNews, Invezz.
